Tersipu seorang gadis belia memetik jingga di ujung desa
Lakunya lugu, sedikit gontai berjalan telanjang
kaki
Sedikit demi sedikit lalu sampai pada tengkuk
liang bukit
"Lagi-lagi matahari enggan menatapku
lagi"
Apa gara-gara kucuran masam keringat yang tak
gemulai
Harapan yang menjadi benalu meranggas di
punggungnya
Tentang, "emak, apa ilmu yang kubawa
nantinya?"
Tercecer di pematang sepi mimpi-mimpi buntung
Segenggam jerami menghidupi puntung hidupnya
Ingin dinyalakan katanya, walau sesak nafas
hirup pekat asap
Sampai suatu saat tertoreh cerita ia disambangi
wanita muda
"Mari berbagi jendela" katanya ia
membuka lembar alinea
Tapi gadis belia itu berlari menanggalkan
beberapa pijak kaki
"Aku malu, sekolah tak mampu, buku tak tau.
Aku hanya jelata yang pilu" katanya
Sementara itu, wanita muda mengejarnya
membawakan benih mantra
Kepada gadis belia yang dilukiskan sebagai
pengayuh rantai negara
Benih yang ia tanamkan pada utas-utas perunggu
waktu nantinya
Soal, "mari belajar bersamaku" menghidupi
matahari lalu membekali bumi
Pada akhirnya, gadis belia itu mulai mendongak
ke langit menyetujui
Matahari yang menguliti harapannya mulai
bersemayam damai
Petuah wanita muda dan ajakannya melalang buana
Walau hanya berlayar di tempayan, tapi inilah
insan manusia
Mengajak dan menuntun, membagi cahaya untuk
menjadi pelangi
Mengingat ladang ilmu dan ladang jerami kian
dipupuk kian bersemi
Berdampingan cantik menjadi gores lukisan dan
daun-daun puisi
Hingga sampai pada suatu hari dimana aku
lantunkan penggalan ini