Tidee-Kenakalan remaja dalam berbagai hal hampir setiap hari terekspos di media massa. Baik itu perilaku anarkis yang dilakukan geng-geng beranggotakan remaja, seks bebas, pesta miras dan lainnya. Peristiwa yang terekam di media mungkin hanya sebagian kecil saja dan kemungkinan yang tidak terekam lebih banyak lagi. Hal ini menjadi pekerjaan rumah bagi orangtua untuk mengantisipasi kenakalan remaja sedini mungkin, karena orang tua (keluarga) adalah benteng pertama dari pendidikan moral seorang anak. Di samping orang tua, tentunya pihak-pihak lain seperti pihak sekolah juga berperan penting dalam mengatasi permasalahan remaja karena sebagian waktu remaja dihabiskan di sekolah.
Remaja adalah masa peralihan
dari kanak-kanak menjadi dewasa yang berkisar pada usia 12 sampai 21 tahun. Proses
pembentukan kepribadian dalam masa ini belum matang, di antara ciri khususnya
adalah emosi yang belum stabil, pencarian jati diri, mulai sulit diarahkan
karena merasa bukan anak-anak lagi dan mudah
terpengaruh. Dengan berbagai perkembangan psikologi ini, maka remaja sangat
rentan terhadap kenakalan remaja. Menurut Kartono, Kenakalan remaja yang dalam
bahasa Inggris dikenal sebagai juvenile delinquency merupakan gejala
patologis sosial pada remaja yang disebabkan oleh satu bentuk pengabaian sosial,
akibatnya mereka mengembangkan bentuk perilaku yang menyimpang. Berbagai faktor
yang mempengaruhi kenakalan remaja di antaranya : dasar agama yang kurang,
permasalahan dalam keluarga, lingkungan yang tidak baik, salah dalam pergaulan,
penggunaan waktu luang yang negatif, kebebasan berlebihan, pemanfaatan
teknologi informasi yang tidak tepat dan lain sebagainya.
Meminimalisir kenakalan remaja adalah dengan menghilangkan faktor-faktor yang mempengaruhinya, di antaranya adalah memberikan dasar agama yang kuat serta bijak menyalurkan gairah masa remaja dan pemanfaatan waktu luang pada kegiatan-kegiatan yang bernilai positif. Salah satu alternatif yang dapat dilakukan adalah memberikan pendidikan berbasis pesantren. Sebagaimana diketahui kegiatan pesantren pada umumnya sangat padat yang dimulai dari pukul empat pagi dan berakhir pada malam hari. Aktifitas yang padat dengan beragam kegiatan yang positif ini tentunya tidak menyisakan waktu untuk anak remaja bermain hal-hal yang negatif. Lingkungan pesantren yang baik juga dapat membentuk perilaku anak menjadi lebih baik. Di pesantren tidak ada waktu luang yang terbuang percuma, seluruh waktu digunakan untuk melakukan aktifitas-aktifitas yang sangat positif seperti belajar, mengaji, dan kegiatan ekstra kurikuler.
Anggapan bahwa pesantren adalah kolot dan hanya memikirkan pendidikan
keakhiratan saja pada masa kini sudah tidak berlaku lagi. Pesantren telah
mengalami perubahan dari masa ke masa. Pendidikan pesantren merupakan model
pendidikan tertua yang sangat berperan dalam proses penyebaran Islam di
Indonesia. Sebagai lembaga pendidikan yang berpengalaman, perubahan sistem
pendidikan dari masa ke masa mengalami kemajuan yang pesat. Kini tidak hanya
pendidikan agama saja yang diajarkan, pendidikan umum juga menjadi prioritas
yang seimbang dengan pendidikan agama. Bahkan terdapat banyak pesantren yang
berorientasi pada beberapa bidang tertentu seperti pertanian, peternakan,
industri bordir, dan lain-lain.
Kini banyak pesantren yang menggunakan perpaduan kurikulum agama
dan umum sehingga pendidikan yang diperoleh dapat seimbang dan mengikuti
perkembangan zaman. Selain itu kegiatan ekstra kurikuler dalam berbagai bidang
pun disediakan untuk menyalurkan bakat-bakat anak. Banyak lulusan pesantren yang dapat meneruskan
pendidikan tingginya pada universitas-uiversitas terkemuka di Indonesia seperti
ITB, UGM, UI, UNPAD, UIN dan lain-lain. Bahkan tidak sedikit lulusannya yang
berhasil di berbagai bidang, baik dalam bidang agama, politik, ekonomi, dan sains.
Pesantren hanya salah satu alternatif solusi atasi kenakalan remaja. Banyak hal dapat dilakukan untuk mengatasi masalah ini, di antaranya : pertama, kasih sayang serta perhatian keluarga, karena keluarga adalah fondasi utama dari pembentukan kepribadian anak, orang tua bijak memahami bakat anak dan menyalurkannya pada kegiatan yang positif serta memberikan pengawasan yang tidak mengekang. Kedua, Mengisi waktu luang anak dengan kegiatan yang positif dan tidak salah dalam pergaulan. Karena lingkungan yang negatif serta pergaulan yang salah sangat berpengaruh terhadap kenakalan remaja dikarenakan pada masa ini mereka memiliki emosi yang belum stabil dan mudah terpengaruh. Ketiga, Mengarahkan anak pada penggunaan teknologi informasi ke arah yang positif.
Masa remaja yang merupakan peralihan ke masa dewasa merupakan
prioritas yang harus diperhatikan, karena setelah dewasa, ia tidak akan
tergantung pada orang tua dan dapat
menentukan nasibnya sendiri. Jika sedari remaja seseorang selalu berlaku baik
dan positif, maka ketika dewasa ia dapat menentukan dan memilih jalan yang
positif dan baik, akan tetapi berbeda jika sebaliknya.
Anak adalah titipan Tuhan, harta titipan ini harus dijaga dengan
baik. Masa kanak-kanak dan remaja merupakan masa-masa yang harus mendapat
perhatian tinggi dari keluarga sehingga menjadi pribadi yang baik dan positif.
Anak-anak adalah generasi penerus bangsa, jika sedari kecil di arahkan pada hal
yang positif, tentunya akan tertanam dalam benaknya hingga dewasa. Kita harus
menjadikan generasi berikutnya sebagai generasi yang baik dan kuat, sebagaimana firman Allah surat An-Nisa
ayat 9 : “ Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya
meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah yang mereka khawatir
terhadap (kesejahteraan) mereka, oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa
kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.”
